Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan juga mencatat prestasi melalui Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID). Rekor tersebut diberikan atas kategori “Pemrakarsa dan Penyelenggara Rekor Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan diikuti Peserta Terbanyak.” Piagam penghargaan LEPRID Nomor 1.037/LEPRID/VIII/2026 diserahkan langsung Pendiri sekaligus Ketua Umum LEPRID Paulus Pangka kepada Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti.
25 Ribu Peserta Menari Dug Dug Der Bersama di Simpang Lima Semarang
Sekitar 25 ribu peserta mengikuti Festival Tari Dug Dug Der Semarangan di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, Minggu (9/8/2026). Ribuan peserta dari berbagai unsur masyarakat tersebut menari bersama mengikuti koreografi Tari Dug Dug Der Semarangan dalam kegiatan yang menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal.
Peserta Festival Tari Dug Dug Der Semarangan berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, aparatur pemerintah, seniman, komunitas, sanggar seni, organisasi, hingga masyarakat dari sejumlah kecamatan dan kelurahan di Kota Semarang. Kehadiran puluhan ribu peserta membuat kawasan Lapangan Pancasila Simpang Lima dipenuhi warga yang antusias mengikuti gerakan tari secara bersama-sama.
Para peserta tampil mengenakan busana bernuansa tradisional Semarangan. Peserta perempuan mengenakan atasan encim atau busana tari berwarna putih, dipadukan dengan selendang merah dan bawahan batik Semarangan. Sementara peserta laki-laki mengenakan atasan putih, iket Semarangan, serta kain batik Semarangan yang dililitkan di bagian luar celana.
Penampilan puluhan ribu peserta dalam Festival Tari Dug Dug Der Semarangan tidak hanya menghadirkan kemeriahan di kawasan Simpang Lima, tetapi juga memperlihatkan kuatnya semangat masyarakat dalam melestarikan kesenian daerah. Tari Dug Dug Der menjadi salah satu kesenian yang turut memperkuat identitas budaya Kota Semarang.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk mengenalkan Tari Dug Dug Der Semarangan kepada masyarakat secara lebih luas. Dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, Festival Tari Dug Dug Der Semarangan menunjukkan keberagaman budaya sekaligus semangat kebersamaan warga Kota Semarang dalam menjaga dan mengembangkan tradisi lokal.
Tari Dug Dug Der Terinspirasi Tradisi Dugderan
Tari Dug Dug Der Semarangan merupakan karya tari yang terinspirasi dari tradisi Dugderan, salah satu tradisi budaya yang telah lama berkembang di Kota Semarang.
Nama “Dug Dug Der” diambil dari suara khas dalam tradisi Dugderan. Bunyi “dug dug” merujuk pada suara tabuhan bedug, sedangkan “der” berasal dari bunyi dentuman meriam yang dahulu digunakan sebagai penanda datangnya bulan Ramadan.
Tradisi Dugderan sendiri menjadi salah satu gambaran akulturasi budaya di Semarang. Tradisi tersebut juga dikenal dengan keberadaan ikon Warak Ngendog yang merepresentasikan percampuran berbagai unsur budaya yang hidup di Kota Semarang.
Tari Dug Dug Der kemudian dikembangkan dalam bentuk koreografi yang dapat dipelajari dan ditarikan bersama oleh masyarakat.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, pengembangan Tari Dug Dug Der Semarangan menjadi salah satu cara untuk mempertahankan budaya yang telah hidup di Kota Semarang selama ratusan tahun.
“Jadi budaya yang sudah hidup di Kota Semarang selama sekian ratus tahun itu ingin kita pertahankan dengan cara mengumpulkan menjadi satu,” kata Agustina.
Jadi Simbol Keberagaman Kota Semarang
Menurut Agustina, Tari Dug Dug Der Semarangan tidak sekadar menjadi pertunjukan seni. Tarian tersebut juga membawa pesan tentang keberagaman dan kebersamaan masyarakat Kota Semarang.
Berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang berbeda dapat berkumpul dan melakukan gerakan yang sama melalui tarian tersebut.
“Kita datang dari tempat yang berbeda, dengan keseharian yang berbeda. Pagi ini kita bertemu dalam satu irama tarian: Dug Dug Der Semarangan,” ujar Agustina.
Ia menilai keberagaman merupakan bagian penting dari perkembangan Kota Semarang. Karena itu, kebudayaan diharapkan dapat menjadi ruang yang menyatukan masyarakat.
Festival tersebut juga menjadi sarana untuk mendekatkan budaya lokal kepada generasi muda. Pemerintah ingin agar budaya tidak hanya dikenal sebagai sejarah, tetapi terus dipraktikkan dan dikembangkan oleh masyarakat.
“Inilah cara sebuah budaya terus hidup: ketika generasi muda mengenalnya, ketika masyarakat mempraktikkannya, ketika komunitas mengembangkannya, dan ketika pemerintah memberi ruang agar karya budaya dapat tumbuh di tengah masyarakat,” jelasnya.
Pelajar Ikut Menari Dug Dug Der
Antusiasme generasi muda terlihat dalam Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan. Sejumlah pelajar turut menjadi peserta dan mewakili sekolah masing-masing.
Amel dan Dea, siswi kelas XI SMK Negeri 6 Semarang, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut.
Keduanya mengatakan hanya membutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk mempelajari gerakan Tari Dug Dug Der Semarangan.
Awalnya mereka mendapatkan video tutorial untuk dipelajari secara mandiri. Setelah itu, gerakan dipraktikkan bersama teman-teman di sekolah.
“Perasaan kami setelah nari Dug Dug Der seru sih, soalnya kan kita juga nari bareng-bareng, pertama kali juga mewakili sekolah,” ujar Amel.
Menurut mereka, gerakan tarian relatif mudah diikuti. Durasi tarian yang hanya sekitar tiga menit juga membuat peserta lebih mudah menghafalkan koreografinya.
Salah satu peserta dari Sanggar Sobokartti, Yusuf Al Fatih, juga menilai koreografi Tari Dug Dug Der cukup sederhana.
“Gerakannya, koreonya sebenarnya gampang, soalnya diulang-ulang,” kata Yusuf.
LEPRID Catat Rekor 25.000 Peserta
Ketua Umum sekaligus Pendiri LEPRID, Paulus Pangka, menyebut Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan diikuti sekitar 25.000 peserta.
Jumlah tersebut kemudian menjadi dasar pencatatan rekor LEPRID bagi Pemerintah Kota Semarang.
Paulus mengatakan kegiatan tersebut memiliki nilai penting karena memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas, terutama generasi muda.
Menurutnya, keterlibatan pelajar dan mahasiswa menjadi salah satu bagian penting dalam mengenalkan budaya daerah kepada generasi penerus.
Ia juga menyebut Tari Dug Dug Der sebagai bentuk kreasi baru yang berkaitan dengan budaya khas Semarang dan dapat dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat.
“Tujuannya tentunya apa? Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa budaya akan menyatukan kita secara keseluruhan Indonesia,” tutur Paulus.
Bukan Sekadar Mengejar Rekor
Agustina menegaskan bahwa pencatatan rekor LEPRID bukan menjadi tujuan akhir dari kegiatan tersebut.
Menurutnya, hal yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat Semarang memiliki rasa bangga terhadap budaya daerah dan ikut menjaga keberlangsungannya.
“Rekor ini bukan tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat ikut memiliki dan mencintai budaya Kota Semarang,” ujar Agustina.
Ia berharap Tari Dug Dug Der Semarangan dapat terus berkembang melalui sekolah, sanggar seni, komunitas hingga lingkungan kelurahan.
Dengan cara tersebut, budaya lokal tidak hanya tampil ketika ada festival, tetapi dapat menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sehari-hari.
Festival Dug Dug Der Perkuat Identitas Budaya Semarang
Pemerintah Kota Semarang berharap rekor LEPRID yang diraih melalui Festival Tari Dug Dug Der Semarangan tidak berhenti sebagai seremoni.
Festival tersebut diharapkan menjadi awal dari gerakan kebudayaan yang lebih luas dan berkelanjutan.
Beberapa langkah yang dapat dikembangkan antara lain :
- Mengenalkan Tari Dug Dug Der Semarangan kepada pelajar.
- Mendorong sanggar seni untuk mengembangkan koreografi.
- Menggelar pertunjukan budaya secara rutin.
- Melibatkan komunitas dan masyarakat di tingkat kecamatan serta kelurahan.
- Memperkuat promosi budaya Semarang melalui kegiatan pariwisata.
- Mendorong generasi muda untuk mempelajari kesenian daerah.
Agustina mengatakan budaya yang telah hidup selama ratusan tahun perlu terus diberikan ruang agar dapat berkembang mengikuti zaman.
“Inilah cara sebuah budaya terus hidup: ketika generasi muda mengenalnya, ketika masyarakat mempraktikkannya, ketika komunitas mengembangkannya, dan ketika pemerintah memberi ruang agar karya budaya dapat tumbuh di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Budaya Juga Berpotensi Gerakkan Ekonomi Semarang
Festival Dug Dug Der Semarangan tidak hanya menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya, tetapi juga dinilai memiliki potensi untuk menggerakkan sektor ekonomi daerah. Kegiatan seni dan budaya berskala besar dapat menjadi daya tarik baru yang mendukung perkembangan pariwisata serta ekonomi kreatif di Kota Semarang.
Sebagai kota yang dikenal dengan sektor perdagangan dan jasa, Semarang memiliki peluang untuk mengembangkan kegiatan budaya sebagai bagian dari aktivitas ekonomi. Festival Tari Dug Dug Der Semarangan dapat menjadi ruang promosi bagi pelaku usaha lokal, seniman, komunitas, serta masyarakat yang memiliki produk dan kreativitas khas daerah.
Kegiatan yang melibatkan ribuan masyarakat juga berpotensi menarik kunjungan warga dari luar daerah. Meningkatnya mobilitas masyarakat selama festival dapat memberikan dampak terhadap berbagai sektor, mulai dari kuliner, perdagangan, transportasi, hingga usaha kreatif dan produk lokal Semarang.
Dengan demikian, Festival Dug Dug Der Semarangan tidak hanya menjadi ruang ekspresi dan pelestarian seni budaya, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari strategi penguatan pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Semarang. Perpaduan budaya, partisipasi masyarakat, dan aktivitas ekonomi menjadi peluang untuk semakin memperkuat identitas Semarang sebagai kota perdagangan, jasa, dan budaya.
Semarang Bersatu Lewat Tari Dug Dug Der
Festival Tari Dug Dug Der Semarangan yang digelar di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, pada 9 Agustus 2026 menjadi momentum penting dalam pelestarian budaya lokal. Sekitar 25.000 warga dari berbagai latar belakang ikut menari bersama dalam kegiatan tersebut.
Puluhan ribu peserta tampil mengenakan busana bernuansa tradisional Semarangan dan mengikuti rangkaian gerakan Tari Dug Dug Der secara serentak. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan budaya dalam skala besar, tetapi juga memperlihatkan semangat kebersamaan masyarakat Kota Semarang.
Festival Tari Dug Dug Der Semarangan juga mencatatkan prestasi melalui Rekor Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID). Namun, lebih dari sekadar jumlah peserta dan penghargaan, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi ruang pertemuan masyarakat dari berbagai kalangan dan latar belakang.
Tari Dug Dug Der Semarangan yang terinspirasi dari tradisi Dugderan kini mendapat ruang untuk semakin dikenal, termasuk oleh generasi muda. Dengan terus dipelajari, dipraktikkan, dan dikembangkan, Tari Dug Dug Der diharapkan dapat menjadi salah satu identitas budaya yang semakin melekat dengan Kota Semarang.
Festival Dug Dug Der Semarangan bukan hanya tentang 25 ribu orang yang menari bersama. Lebih dari itu, festival ini menjadi simbol kebersamaan, keberagaman, pelestarian tradisi, dan kebanggaan masyarakat terhadap budaya Kota Semarang.
Kesimpulan
Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan yang digelar di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, pada 9 Agustus 2026 menjadi momentum penting dalam pelestarian dan penguatan identitas budaya lokal. Kegiatan yang diikuti sekitar 25.000 peserta dari berbagai kalangan tersebut berhasil mencatatkan Rekor LEPRID sebagai festival Tari Dug Dug Der Semarangan dengan peserta terbanyak.
Namun, pencapaian rekor bukanlah tujuan utama kegiatan. Festival ini menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi ruang yang menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang, sekaligus memperkenalkan kesenian Semarang kepada generasi muda. Tari Dug Dug Der yang terinspirasi dari tradisi Dugderan menjadi simbol keberagaman, kebersamaan, dan kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya daerah.
Keterlibatan pelajar, sanggar seni, komunitas, aparatur pemerintah, serta masyarakat secara luas menunjukkan bahwa pelestarian budaya akan lebih kuat apabila dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan. Tari Dug Dug Der juga memiliki peluang untuk terus dikembangkan melalui pendidikan, komunitas seni, kegiatan pariwisata, dan berbagai agenda kebudayaan di Kota Semarang.
Lebih jauh, festival berskala besar seperti ini berpotensi memberikan dampak positif terhadap pariwisata dan ekonomi kreatif, dengan membuka peluang bagi pelaku UMKM, seniman, pelaku usaha kuliner, hingga industri kreatif lokal. Dengan demikian, Festival Dug Dug Der Semarangan tidak hanya menjadi peristiwa budaya dan pencapaian rekor, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem budaya dan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan menunjukkan bahwa budaya akan tetap hidup ketika masyarakat mengenalnya, mempraktikkannya, dan merasa memiliki. Rekor LEPRID menjadi pencapaian yang membanggakan, tetapi warisan terbesar dari kegiatan ini adalah tumbuhnya rasa cinta, kebersamaan, dan kebanggaan masyarakat terhadap budaya Kota Semarang.
Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan juga mencatat prestasi melalui Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID). Rekor tersebut diberikan atas kategori “Pemrakarsa dan Penyelenggara Rekor Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan diikuti Peserta Terbanyak.” Piagam penghargaan LEPRID Nomor 1.037/LEPRID/VIII/2026 diserahkan langsung Pendiri sekaligus Ketua Umum LEPRID Paulus Pangka kepada Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti.
25 Ribu Peserta Menari Dug Dug Der Bersama di Simpang Lima Semarang
Sekitar 25 ribu peserta mengikuti Festival Tari Dug Dug Der Semarangan di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, Minggu (9/8/2026). Ribuan peserta dari berbagai unsur masyarakat tersebut menari bersama mengikuti koreografi Tari Dug Dug Der Semarangan dalam kegiatan yang menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal.
Peserta Festival Tari Dug Dug Der Semarangan berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, aparatur pemerintah, seniman, komunitas, sanggar seni, organisasi, hingga masyarakat dari sejumlah kecamatan dan kelurahan di Kota Semarang. Kehadiran puluhan ribu peserta membuat kawasan Lapangan Pancasila Simpang Lima dipenuhi warga yang antusias mengikuti gerakan tari secara bersama-sama.
Para peserta tampil mengenakan busana bernuansa tradisional Semarangan. Peserta perempuan mengenakan atasan encim atau busana tari berwarna putih, dipadukan dengan selendang merah dan bawahan batik Semarangan. Sementara peserta laki-laki mengenakan atasan putih, iket Semarangan, serta kain batik Semarangan yang dililitkan di bagian luar celana.
Penampilan puluhan ribu peserta dalam Festival Tari Dug Dug Der Semarangan tidak hanya menghadirkan kemeriahan di kawasan Simpang Lima, tetapi juga memperlihatkan kuatnya semangat masyarakat dalam melestarikan kesenian daerah. Tari Dug Dug Der menjadi salah satu kesenian yang turut memperkuat identitas budaya Kota Semarang.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk mengenalkan Tari Dug Dug Der Semarangan kepada masyarakat secara lebih luas. Dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, Festival Tari Dug Dug Der Semarangan menunjukkan keberagaman budaya sekaligus semangat kebersamaan warga Kota Semarang dalam menjaga dan mengembangkan tradisi lokal.
Tari Dug Dug Der Terinspirasi Tradisi Dugderan
Tari Dug Dug Der Semarangan merupakan karya tari yang terinspirasi dari tradisi Dugderan, salah satu tradisi budaya yang telah lama berkembang di Kota Semarang.
Nama “Dug Dug Der” diambil dari suara khas dalam tradisi Dugderan. Bunyi “dug dug” merujuk pada suara tabuhan bedug, sedangkan “der” berasal dari bunyi dentuman meriam yang dahulu digunakan sebagai penanda datangnya bulan Ramadan.
Tradisi Dugderan sendiri menjadi salah satu gambaran akulturasi budaya di Semarang. Tradisi tersebut juga dikenal dengan keberadaan ikon Warak Ngendog yang merepresentasikan percampuran berbagai unsur budaya yang hidup di Kota Semarang.
Tari Dug Dug Der kemudian dikembangkan dalam bentuk koreografi yang dapat dipelajari dan ditarikan bersama oleh masyarakat.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, pengembangan Tari Dug Dug Der Semarangan menjadi salah satu cara untuk mempertahankan budaya yang telah hidup di Kota Semarang selama ratusan tahun.
“Jadi budaya yang sudah hidup di Kota Semarang selama sekian ratus tahun itu ingin kita pertahankan dengan cara mengumpulkan menjadi satu,” kata Agustina.
Jadi Simbol Keberagaman Kota Semarang
Menurut Agustina, Tari Dug Dug Der Semarangan tidak sekadar menjadi pertunjukan seni. Tarian tersebut juga membawa pesan tentang keberagaman dan kebersamaan masyarakat Kota Semarang.
Berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang berbeda dapat berkumpul dan melakukan gerakan yang sama melalui tarian tersebut.
“Kita datang dari tempat yang berbeda, dengan keseharian yang berbeda. Pagi ini kita bertemu dalam satu irama tarian: Dug Dug Der Semarangan,” ujar Agustina.
Ia menilai keberagaman merupakan bagian penting dari perkembangan Kota Semarang. Karena itu, kebudayaan diharapkan dapat menjadi ruang yang menyatukan masyarakat.
Festival tersebut juga menjadi sarana untuk mendekatkan budaya lokal kepada generasi muda. Pemerintah ingin agar budaya tidak hanya dikenal sebagai sejarah, tetapi terus dipraktikkan dan dikembangkan oleh masyarakat.
“Inilah cara sebuah budaya terus hidup: ketika generasi muda mengenalnya, ketika masyarakat mempraktikkannya, ketika komunitas mengembangkannya, dan ketika pemerintah memberi ruang agar karya budaya dapat tumbuh di tengah masyarakat,” jelasnya.
Pelajar Ikut Menari Dug Dug Der
Antusiasme generasi muda terlihat dalam Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan. Sejumlah pelajar turut menjadi peserta dan mewakili sekolah masing-masing.
Amel dan Dea, siswi kelas XI SMK Negeri 6 Semarang, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut.
Keduanya mengatakan hanya membutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk mempelajari gerakan Tari Dug Dug Der Semarangan.
Awalnya mereka mendapatkan video tutorial untuk dipelajari secara mandiri. Setelah itu, gerakan dipraktikkan bersama teman-teman di sekolah.
“Perasaan kami setelah nari Dug Dug Der seru sih, soalnya kan kita juga nari bareng-bareng, pertama kali juga mewakili sekolah,” ujar Amel.
Menurut mereka, gerakan tarian relatif mudah diikuti. Durasi tarian yang hanya sekitar tiga menit juga membuat peserta lebih mudah menghafalkan koreografinya.
Salah satu peserta dari Sanggar Sobokartti, Yusuf Al Fatih, juga menilai koreografi Tari Dug Dug Der cukup sederhana.
“Gerakannya, koreonya sebenarnya gampang, soalnya diulang-ulang,” kata Yusuf.
LEPRID Catat Rekor 25.000 Peserta
Ketua Umum sekaligus Pendiri LEPRID, Paulus Pangka, menyebut Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan diikuti sekitar 25.000 peserta.
Jumlah tersebut kemudian menjadi dasar pencatatan rekor LEPRID bagi Pemerintah Kota Semarang.
Paulus mengatakan kegiatan tersebut memiliki nilai penting karena memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas, terutama generasi muda.
Menurutnya, keterlibatan pelajar dan mahasiswa menjadi salah satu bagian penting dalam mengenalkan budaya daerah kepada generasi penerus.
Ia juga menyebut Tari Dug Dug Der sebagai bentuk kreasi baru yang berkaitan dengan budaya khas Semarang dan dapat dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat.
“Tujuannya tentunya apa? Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa budaya akan menyatukan kita secara keseluruhan Indonesia,” tutur Paulus.
Bukan Sekadar Mengejar Rekor
Agustina menegaskan bahwa pencatatan rekor LEPRID bukan menjadi tujuan akhir dari kegiatan tersebut.
Menurutnya, hal yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat Semarang memiliki rasa bangga terhadap budaya daerah dan ikut menjaga keberlangsungannya.
“Rekor ini bukan tujuan akhir. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat ikut memiliki dan mencintai budaya Kota Semarang,” ujar Agustina.
Ia berharap Tari Dug Dug Der Semarangan dapat terus berkembang melalui sekolah, sanggar seni, komunitas hingga lingkungan kelurahan.
Dengan cara tersebut, budaya lokal tidak hanya tampil ketika ada festival, tetapi dapat menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sehari-hari.
Festival Dug Dug Der Perkuat Identitas Budaya Semarang
Pemerintah Kota Semarang berharap rekor LEPRID yang diraih melalui Festival Tari Dug Dug Der Semarangan tidak berhenti sebagai seremoni.
Festival tersebut diharapkan menjadi awal dari gerakan kebudayaan yang lebih luas dan berkelanjutan.
Beberapa langkah yang dapat dikembangkan antara lain :
- Mengenalkan Tari Dug Dug Der Semarangan kepada pelajar.
- Mendorong sanggar seni untuk mengembangkan koreografi.
- Menggelar pertunjukan budaya secara rutin.
- Melibatkan komunitas dan masyarakat di tingkat kecamatan serta kelurahan.
- Memperkuat promosi budaya Semarang melalui kegiatan pariwisata.
- Mendorong generasi muda untuk mempelajari kesenian daerah.
Agustina mengatakan budaya yang telah hidup selama ratusan tahun perlu terus diberikan ruang agar dapat berkembang mengikuti zaman.
“Inilah cara sebuah budaya terus hidup: ketika generasi muda mengenalnya, ketika masyarakat mempraktikkannya, ketika komunitas mengembangkannya, dan ketika pemerintah memberi ruang agar karya budaya dapat tumbuh di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Budaya Juga Berpotensi Gerakkan Ekonomi Semarang
Festival Dug Dug Der Semarangan tidak hanya menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya, tetapi juga dinilai memiliki potensi untuk menggerakkan sektor ekonomi daerah. Kegiatan seni dan budaya berskala besar dapat menjadi daya tarik baru yang mendukung perkembangan pariwisata serta ekonomi kreatif di Kota Semarang.
Sebagai kota yang dikenal dengan sektor perdagangan dan jasa, Semarang memiliki peluang untuk mengembangkan kegiatan budaya sebagai bagian dari aktivitas ekonomi. Festival Tari Dug Dug Der Semarangan dapat menjadi ruang promosi bagi pelaku usaha lokal, seniman, komunitas, serta masyarakat yang memiliki produk dan kreativitas khas daerah.
Kegiatan yang melibatkan ribuan masyarakat juga berpotensi menarik kunjungan warga dari luar daerah. Meningkatnya mobilitas masyarakat selama festival dapat memberikan dampak terhadap berbagai sektor, mulai dari kuliner, perdagangan, transportasi, hingga usaha kreatif dan produk lokal Semarang.
Dengan demikian, Festival Dug Dug Der Semarangan tidak hanya menjadi ruang ekspresi dan pelestarian seni budaya, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari strategi penguatan pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Semarang. Perpaduan budaya, partisipasi masyarakat, dan aktivitas ekonomi menjadi peluang untuk semakin memperkuat identitas Semarang sebagai kota perdagangan, jasa, dan budaya.
Semarang Bersatu Lewat Tari Dug Dug Der
Festival Tari Dug Dug Der Semarangan yang digelar di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, pada 9 Agustus 2026 menjadi momentum penting dalam pelestarian budaya lokal. Sekitar 25.000 warga dari berbagai latar belakang ikut menari bersama dalam kegiatan tersebut.
Puluhan ribu peserta tampil mengenakan busana bernuansa tradisional Semarangan dan mengikuti rangkaian gerakan Tari Dug Dug Der secara serentak. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan budaya dalam skala besar, tetapi juga memperlihatkan semangat kebersamaan masyarakat Kota Semarang.
Festival Tari Dug Dug Der Semarangan juga mencatatkan prestasi melalui Rekor Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID). Namun, lebih dari sekadar jumlah peserta dan penghargaan, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi ruang pertemuan masyarakat dari berbagai kalangan dan latar belakang.
Tari Dug Dug Der Semarangan yang terinspirasi dari tradisi Dugderan kini mendapat ruang untuk semakin dikenal, termasuk oleh generasi muda. Dengan terus dipelajari, dipraktikkan, dan dikembangkan, Tari Dug Dug Der diharapkan dapat menjadi salah satu identitas budaya yang semakin melekat dengan Kota Semarang.
Festival Dug Dug Der Semarangan bukan hanya tentang 25 ribu orang yang menari bersama. Lebih dari itu, festival ini menjadi simbol kebersamaan, keberagaman, pelestarian tradisi, dan kebanggaan masyarakat terhadap budaya Kota Semarang.
Kesimpulan
Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan yang digelar di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, pada 9 Agustus 2026 menjadi momentum penting dalam pelestarian dan penguatan identitas budaya lokal. Kegiatan yang diikuti sekitar 25.000 peserta dari berbagai kalangan tersebut berhasil mencatatkan Rekor LEPRID sebagai festival Tari Dug Dug Der Semarangan dengan peserta terbanyak.
Namun, pencapaian rekor bukanlah tujuan utama kegiatan. Festival ini menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi ruang yang menyatukan masyarakat dari berbagai latar belakang, sekaligus memperkenalkan kesenian Semarang kepada generasi muda. Tari Dug Dug Der yang terinspirasi dari tradisi Dugderan menjadi simbol keberagaman, kebersamaan, dan kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya daerah.
Keterlibatan pelajar, sanggar seni, komunitas, aparatur pemerintah, serta masyarakat secara luas menunjukkan bahwa pelestarian budaya akan lebih kuat apabila dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan. Tari Dug Dug Der juga memiliki peluang untuk terus dikembangkan melalui pendidikan, komunitas seni, kegiatan pariwisata, dan berbagai agenda kebudayaan di Kota Semarang.
Lebih jauh, festival berskala besar seperti ini berpotensi memberikan dampak positif terhadap pariwisata dan ekonomi kreatif, dengan membuka peluang bagi pelaku UMKM, seniman, pelaku usaha kuliner, hingga industri kreatif lokal. Dengan demikian, Festival Dug Dug Der Semarangan tidak hanya menjadi peristiwa budaya dan pencapaian rekor, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem budaya dan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan menunjukkan bahwa budaya akan tetap hidup ketika masyarakat mengenalnya, mempraktikkannya, dan merasa memiliki. Rekor LEPRID menjadi pencapaian yang membanggakan, tetapi warisan terbesar dari kegiatan ini adalah tumbuhnya rasa cinta, kebersamaan, dan kebanggaan masyarakat terhadap budaya Kota Semarang.