Dengan dukungan dari Dans Keik Bakery Semarang dan dipandu oleh storyteller profesional dari Bersukaria Tour, pengalaman ini menjadi lebih dari sekadar jalan-jalan biasa. Konsep walking tour yang interaktif menjadikan setiap langkah sebagai momen pembelajaran dan eksplorasi. Terbuka untuk segala usia, kegiatan ini membuktikan bahwa belajar bisa dilakukan di luar kelas dengan cara yang menghibur, mendalam, dan membekas.
Belajar Seraya Menjelajah: Edukasi yang Menyenangkan
Seperti namanya, wisata edukasi bukan sekadar liburan. Ini adalah bentuk pembelajaran alternatif yang semakin digemari karena mampu menyampaikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai budaya secara langsung dan kontekstual. Tidak hanya untuk pelajar, wisata edukasi dapat diikuti oleh semua kalangan usia, karena menekankan pembelajaran interaktif yang menyenangkan.
Dalam kegiatan ini, peserta tidak hanya akan belajar sejarah dan budaya Kota Lama Semarang, tetapi juga akan mendapatkan pengalaman belajar Bahasa Inggris langsung di lapangan, dengan dukungan tour guide profesional dan aktivitas penuh interaksi.
Apa yang Bisa Kamu Dapatkan dari Kegiatan Ini?
Backpacking education bukan sekadar jalan-jalan santai yang diisi dengan foto-foto dan bersantai. Di balik kegiatan yang tampak menyenangkan ini, terdapat berbagai manfaat pendidikan dan pengembangan diri yang bisa kamu rasakan secara langsung. Konsep backpacking education menggabungkan petualangan, pembelajaran kontekstual, serta pengembangan soft skill dan komunikasi lintas budaya. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa kamu dapatkan dari kegiatan ini :
1. Pengalaman Belajar Langsung di Lapangan
Salah satu kelebihan utama dari backpacking education adalah metode belajar langsung di lapangan. Peserta tidak hanya duduk diam mendengarkan materi, tetapi terlibat aktif dalam kegiatan eksploratif. Ketika kamu mengunjungi tempat-tempat bersejarah atau lingkungan masyarakat tertentu, kamu akan melihat sendiri bagaimana pelajaran yang biasanya kamu baca di buku benar-benar terjadi di dunia nyata. Misalnya, belajar tentang sejarah kolonial Belanda di Semarang menjadi jauh lebih hidup ketika kamu menyusuri kawasan Kota Lama, melihat langsung bangunan peninggalan zaman VOC, dan mendengar cerita dari narasumber lokal.
Belajar di lapangan seperti ini mampu meningkatkan pemahaman karena melibatkan banyak indera: melihat, mendengar, menyentuh, bahkan mencium aroma khas lingkungan. Metode ini juga memperkuat ingatan karena pengalaman tersebut melekat secara emosional dan fisik.
2. Penggunaan Bahasa Inggris Aktif dalam Kegiatan
Kegiatan backpacking education biasanya dirancang dalam format bilingual atau full English, tergantung pada tujuan dan kelompok pesertanya. Ini menjadi kesempatan luar biasa untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris secara aktif dalam konteks nyata. Kamu akan diajak berdialog, berdiskusi, hingga bermain peran (role-play) dengan menggunakan bahasa Inggris.
Berbeda dengan belajar di kelas yang lebih fokus pada teori dan tata bahasa, dalam kegiatan ini kamu akan dipaksa untuk berpikir cepat dan menyesuaikan ucapan dengan situasi di lapangan. Misalnya, ketika menjelaskan arah kepada turis asing yang kebetulan lewat, atau saat mendeskripsikan suatu tempat kepada teman dalam kelompok. Hal ini melatih kepercayaan diri, keberanian untuk berbicara, serta kelancaran dalam komunikasi aktif.
3. Pengetahuan Sejarah dan Budaya Semarang Secara Kontekstual
Semarang merupakan kota yang kaya akan sejarah dan budaya. Dalam backpacking education, kamu tidak hanya sekadar mengunjungi tempat-tempat populer seperti Lawang Sewu atau Sam Poo Kong, tetapi juga akan diajak memahami konteks sejarah dan nilai-nilai budaya yang ada di balik tempat-tempat tersebut.
Kamu akan belajar tentang bagaimana etnis Tionghoa, Jawa, dan Belanda hidup berdampingan, bagaimana akulturasi budaya terjadi, serta nilai-nilai lokal yang masih hidup sampai sekarang. Materi yang disampaikan juga dikaitkan dengan isu-isu kekinian, seperti pelestarian bangunan tua, toleransi antarumat beragama, atau dinamika masyarakat urban. Ini semua membuat pengetahuan yang kamu dapatkan menjadi lebih bermakna dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
4. Permainan Tradisional yang Membangun Kerjasama dan Rasa Percaya Diri
Kegiatan tidak hanya berisi eksplorasi dan diskusi, tetapi juga permainan tradisional yang menyenangkan dan edukatif. Permainan seperti engklek, egrang, atau gobak sodor tidak hanya membangkitkan nostalgia, tetapi juga mengajarkan nilai kerja sama, strategi, serta membangun rasa percaya diri. Dalam suasana yang santai dan kompetitif, peserta akan belajar bagaimana berinteraksi, menyusun rencana, dan bekerja sama sebagai tim.
Kegiatan seperti ini juga menjadi jembatan antara generasi. Anak-anak dan remaja bisa merasakan permainan yang dulu dimainkan oleh orang tua atau kakek-nenek mereka, sehingga memperkuat ikatan budaya dan menghargai warisan lokal.
5. Networking dan Pertemanan Baru Lintas Usia
Salah satu manfaat sosial dari backpacking education adalah kesempatan untuk menjalin hubungan dengan orang-orang baru dari latar belakang yang beragam. Dalam satu kelompok, kamu bisa bertemu dengan siswa, mahasiswa, guru, bahkan pekerja profesional yang memiliki minat serupa. Interaksi ini membuka wawasan, memperluas jejaring pertemanan, dan bisa membuka peluang kolaborasi di masa depan.
Kamu juga akan belajar bagaimana berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang yang lebih tua atau lebih muda, yang pada akhirnya membentuk sikap toleran dan empati. Hubungan yang terjalin selama kegiatan seringkali berlanjut setelah program selesai, baik sebagai teman, rekan belajar, maupun partner dalam proyek sosial.
Belajar bisa di mana saja, dan kali ini Semarang menjadi ruang kelas terbuka yang luar biasa.
Kota Lama Semarang: Kelas Terbuka Bernuansa Kolonial
Kawasan Kota Lama Semarang dikenal sebagai Little Netherlands karena deretan bangunan peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh sejak abad ke-18. Di sinilah peserta akan merasakan atmosfer tempo dulu sambil belajar tentang sejarah dan arsitektur kolonial yang unik. Destinasi utama dalam Fun Education Trip kali ini meliputi :
1. Gereja Blenduk
Gereja Blenduk, yang bernama resmi GPIB Immanuel, merupakan salah satu ikon paling mencolok di kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah. Dibangun pertama kali oleh bangsa Portugis pada tahun 1753, gereja ini awalnya berbentuk rumah panggung bergaya Jawa. Namun, pada tahun 1894–1895, bangunan ini direnovasi besar-besaran oleh arsitek Belanda H.P.A. De Wilde dan W. Westmaas, yang mengubah atapnya menjadi kubah setengah bola dan menambahkan dua menara kembar di bagian depan. Perubahan arsitektur ini membuat masyarakat menyebutnya sebagai "Gereja Blenduk," dari kata Jawa mblenduk yang berarti menonjol atau menggelembung.
Gereja ini dibangun dengan gaya Neo Klasik dan memiliki denah berbentuk salib Yunani, dengan ruang kebaktian sebagai pusatnya, melambangkan Kristus yang disalibkan. Di dalamnya terdapat berbagai ornamen khas, seperti orgel setinggi enam meter yang telah berusia lebih dari dua abad dan kursi jemaat tunggal dari kayu jati dengan dudukan anyaman rotan. Ventilasi berupa jendela kaca patri bergaya gotik juga menambah nuansa klasik bangunan ini. Kini, Gereja Blenduk tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai warisan budaya yang memperkaya sejarah arsitektur kolonial di Indonesia.
2. Rumah Akar
Di tengah gemerlap nuansa kolonial Kota Lama Semarang, terdapat satu spot yang mencuri perhatian wisatawan, yakni Rumah Akar. Terletak di Jl. Jalak gang kecil yang menghubungkan Jl. Kepodang dan Jl. Letjen Soeprapto, tepat di seberang Museum 3D Rumah Akar adalah bangunan tua yang kini tampak terbengkalai, tanpa atap dan hanya menyisakan dinding luar. Keunikan tempat ini terletak pada akar pohon besar yang melilit bangunan, menciptakan suasana eksotis dan sangat Instagramable. Meski tampak angker, banyak pengunjung datang untuk mengabadikan momen karena pesonanya yang artistik dan misterius.
Bangunan ini menyimpan sejarah panjang. Dulunya, rumah tersebut merupakan milik NV Dagblad de Locomotief, surat kabar berbahasa Belanda tertua di Semarang. Kemudian, pada abad ke-19, rumah ini pernah dimiliki oleh Thio Sing Liong, seorang konglomerat sukses di bidang ekspor. Kini, meski hanya tersisa dinding yang diselimuti akar, Rumah Akar tetap menjadi primadona dan simbol estetika Kota Lama. Berkunjung ke Kota Lama rasanya belum lengkap tanpa singgah dan berfoto di Rumah Akar yang penuh cerita ini.
3. Pasar Klitikan
Pasar Klitikan di Kota Lama Semarang menjadi surga bagi para pencinta barang antik dan penggemar nuansa retro. Di pasar ini, wisatawan bisa menemukan berbagai koleksi unik seperti senjata perang, mesin tik, televisi lawas, radio tua, hingga kendaraan antik. Tidak hanya itu, benda-benda klasik seperti setrika arang, lampu kuno, lukisan jadul, koper vintage, hingga uang dan piring kuno juga turut meramaikan suasana pasar. Sejak penataan ulang pada tahun 2019, Pasar Klitikan tampil lebih rapi dan nyaman untuk dijelajahi, tanpa rasa khawatir akan keramaian yang berdesakan.
Menariknya, pengunjung tidak diwajibkan membeli untuk bisa menikmati pengalaman di sini. Pasar Klitikan juga menjadi spot foto menarik berkat atmosfer tempo dulu yang khas. Ini menjadikannya destinasi sempurna bagi wisatawan yang ingin membawa pulang kenangan dalam bentuk foto ataupun suvenir unik untuk menghias rumah. Jadi, jika kamu sedang berada di Semarang, jangan lewatkan kesempatan untuk menjelajahi pasar antik yang penuh cerita ini.
4. Tekodeko Koffiehuis
Tekodeko Koffiehuis adalah perpaduan apik antara sejarah dan modernitas yang hidup di jantung Kota Lama Semarang. Mengusung konsep kafe dengan nuansa kolonial, Tekodeko hadir dalam bangunan klasik dari era 1880-an yang dahulu sempat menjadi hotel. Lokasinya yang strategis, hanya sepelemparan batu dari Gereja Blenduk, menjadikannya destinasi wajib bagi pencinta sejarah dan penikmat kopi. Interiornya yang hangat dengan sentuhan furnitur antik dan lukisan-lukisan lawas menciptakan atmosfer nostalgik, sementara balkon di lantai dua menawarkan pemandangan khas kota tua yang memesona.
Namun bukan hanya suasananya yang menawan, Tekodeko juga mengusung kekayaan sejarah Semarang lewat racikan kopinya. Terinspirasi dari akulturasi budaya Arab, Tiongkok, dan Belanda yang membentuk karakter kota ini, Tekodeko memperkenalkan signature drinks seperti Kopi Cheng Li, Kopi Arab, dan Kopi Londo. Selain itu, ada pula Kopi Gendhis dan Kopi Kota Lama yang menambah kekayaan rasa dan cerita di setiap tegukannya. Di sinilah, kopi menjadi medium untuk merasakan jejak sejarah, menjadikan setiap kunjungan ke Tekodeko tak sekadar ngopi, tapi juga sebuah perjalanan budaya.
5. Spiegel Bar & Bistro
Spiegel Bar & Bistro adalah destinasi kuliner ikonik yang wajib dikunjungi saat berada di kawasan Kota Lama Semarang. Berlokasi di Jl. Letjend. Suprapto No. 34, tempat ini menempati bangunan bersejarah yang sudah berdiri sejak tahun 1895 dan kini menjadi bagian dari cagar budaya kota. Dengan mempertahankan arsitektur kolonial klasik Eropa, Spiegel menawarkan pengalaman bersantap yang memadukan nuansa masa lampau dengan sentuhan modern. Interior yang dirancang langsung oleh sang pemilik yang berlatar belakang arsitek menambah kesan artistik dan berkarakter, terutama dengan elemen-elemen autentik seperti tiang penyangga baja, lantai semen asli, dan dinding bata ekspos yang menawan.
Tak hanya memanjakan lidah dengan menu makanan dan minuman yang beragam, Spiegel Bar & Bistro juga menawarkan atmosfer yang nyaman untuk berbagai aktivitas, mulai dari bersantap santai, nongkrong di area bar, hingga menggelar acara seperti seminar atau pameran seni di lantai dua. Konsep open kitchen yang memungkinkan pengunjung melihat langsung proses memasak serta desain kamar mandi dengan nuansa kolonial yang kuat memperkaya pengalaman berkunjung. Kombinasi sejarah, desain interior yang estetik, dan fungsionalitas menjadikan Spiegel bukan sekadar tempat makan, tapi juga ruang berinteraksi dan menikmati kekayaan budaya Kota Lama Semarang.
6. Gedung Oudetrap (Mini Amphitheater)
Mini Amphitheater “Gedung Oudetrap” merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang berada di jantung Kawasan Kota Lama Semarang. Gedung ini tidak hanya difungsikan sebagai ruang pertunjukan seni dan teater, tetapi juga menjadi galeri kesenian dan kebudayaan yang aktif mendukung kegiatan seni di kota tersebut. Dengan desain khas bergaya Belanda dan tangga spiral ikonik di bagian depannya, Oudetrap menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun fotografer yang ingin mengabadikan nuansa kolonial yang kental.
Gedung bersejarah yang dibangun pada tahun 1834 ini dulunya merupakan gudang cengkeh, rempah, dan gambir pada masa kejayaan jalur perdagangan rempah abad ke-18. Kini, bangunan dua lantai seluas 1.420 meter persegi tersebut dimanfaatkan sebagai tempat berbagai kegiatan seperti seminar, pameran, hingga pertunjukan seni yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Semarang. Letaknya yang strategis di Jalan Taman Srigunting No. 3B menjadikan Oudetrap sebagai simbol revitalisasi dan pelestarian warisan budaya di tengah perkembangan modern Kota Semarang.
7. Gedung Marba
Gedung Marba adalah salah satu bangunan ikonik di kawasan Kota Lama Semarang yang kental dengan nuansa kolonial. Terletak tepat di depan Taman Srigunting, gedung bergaya vintage ini kerap menjadi spot favorit wisatawan dan fotografer. Warna merah marun yang mencolok serta desain arsitektur dua lantai yang kokoh membuat Gedung Marba mudah dikenali dan memikat perhatian. Dibangun pada abad ke-19 oleh seorang saudagar asal Yaman bernama Marta Badjunet, nama Marba sendiri merupakan akronim dari nama sang pendiri sebagai bentuk penghormatan. Dahulu, gedung ini pernah difungsikan sebagai toko modern bernama De Zeikel, yang menjadi pionir di kawasan tersebut.
Keunikan Gedung Marba sering dibandingkan dengan Toko Merah di Kota Tua Jakarta karena kemiripan gaya arsitekturnya. Berada di lokasi strategis yang dekat dengan Gereja Blenduk dan bisa dijangkau dengan sepeda onthel dari berbagai sudut Kota Lama, gedung ini menjadi pilihan ideal untuk wisata nostalgia. Pengunjung biasanya mengabadikan momen dengan latar belakang bangunan ini, terutama karena pesona klasiknya yang memikat. Selain Gedung Marba, Kota Lama Semarang juga menyimpan banyak bangunan bersejarah lain seperti Gedung Asuransi Jiwasraya dan Bank Mandiri, yang turut menambah daya tarik kawasan ini sebagai destinasi wisata fotografi bernuansa tempo dulu.
8. Taman Srigunting
Taman Srigunting merupakan jantung hijau di kawasan Kota Lama Semarang yang kini menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan. Terletak tepat di sisi timur Gereja Blenduk yang ikonik, taman ini menawarkan pemandangan yang indah dan nuansa historis yang kental. Tak hanya sekadar tempat bersantai, Taman Srigunting juga menjadi spot foto populer berkat latar belakang arsitektur kolonial yang memukau. Di masa penjajahan Belanda, taman ini berfungsi sebagai parade plein atau alun-alun tempat pasukan baris-berbaris. Namun kini, setelah melalui berbagai proses revitalisasi, taman ini berubah menjadi ruang terbuka hijau yang ramah dan nyaman untuk semua kalangan.
Dengan pohon-pohon rindang, fasilitas wi-fi gratis, dan kran cuci tangan yang tersebar di beberapa titik, Taman Srigunting cocok dikunjungi kapan saja, baik siang maupun malam. Saat matahari bersinar terik, taman ini menjadi tempat yang sejuk untuk beristirahat; sedangkan di malam hari, suasananya yang tenang dan pencahayaan yang apik menjadikannya lokasi ideal untuk berfoto atau mengobrol santai bersama kerabat. Sejak dibuka untuk umum pada 2001, taman ini tak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga menjadi saksi bisu transformasi Semarang sebagai kota warisan budaya yang terus hidup.
9. Gedung Marabunta
Gedung Marabunta merupakan salah satu destinasi wisata ikonik di kawasan Kota Lama Semarang yang wajib dikunjungi, terutama bagi para pecinta sejarah dan fotografi. Daya tarik utamanya terletak pada dua patung semut raksasa yang menghiasi atap bangunan, memberikan kesan unik dan mencolok. Dibangun pada masa kolonial, gedung ini dahulu berfungsi sebagai tempat pertunjukan opera dan cafeteria yang dikenal dengan nama Schouwburg, menjadikannya saksi bisu perkembangan budaya dan seni di Semarang.
Ketika memasuki gedung, pengunjung akan disambut suasana interior yang tak biasa langit-langitnya menyerupai bagian dalam kapal terbalik, menciptakan nuansa yang memukau dan imajinatif. Keunikan arsitektur serta nilai historis yang dimilikinya membuat Gedung Marabunta menjadi lokasi favorit untuk berfoto sekaligus menyelami jejak masa lalu Kota Semarang.
10. Jembatan Mberok
Jembatan Mberok adalah salah satu landmark bersejarah yang berada di pintu gerbang kawasan Kota Lama Semarang. Dibangun pada masa kolonial, jembatan ini dahulu memiliki fungsi unik karena bisa dibuka dan ditutup untuk memberi jalan bagi kapal yang melintas di Kali Semarang. Kini, jembatan tersebut telah menjadi permanen, namun arsitektur lamanya tetap dipertahankan sebagai simbol kejayaan masa lalu dan bukti perkembangan kota Semarang dari masa ke masa.
Selain sebagai penghubung fisik, Jembatan Mberok juga menyimpan makna sosial-historis yang mendalam. Dahulu, jembatan ini menjadi simbol pemisah antara kawasan kaya kolonial Belanda yang dipagari benteng segi lima (Benteng Vijfhoek) dengan kawasan pribumi. Nama "Berok" sendiri merupakan hasil pelafalan kata Belanda "Brug" oleh masyarakat lokal. Kini, jembatan ini tetap aktif digunakan dan menjadi salah satu jalur penting warga Semarang, sekaligus ikon bersejarah yang menarik untuk dikunjungi saat menyusuri Kota Lama.
11. Gedung ex Jiwasraya
Gedung Jiwasraya di Semarang, dahulu dikenal sebagai Kantor Nillmij van 1859, merupakan salah satu bangunan cagar budaya penting di kawasan Kota Lama Semarang. Terletak di Jl. Letjend. Suprapto, bangunan ini dirancang oleh arsitek kenamaan Herman Thomas Karsten sekitar tahun 1916. Gedung ini mencerminkan gaya arsitektur Indisch Style atau Arsitektur Hindia Baru, yang menyesuaikan bentuk dan material bangunan dengan kondisi iklim tropis lembap. Fitur seperti fasad ganda, koridor pelindung, ventilasi silang, serta penggunaan kisi-kisi beton pada bagian dinding luar merupakan bukti adaptasi tersebut, sekaligus memperkuat nilai estetika bangunan.
Sebagai salah satu gedung modern pertama di Semarang, Gedung Jiwasraya dikenal pula sebagai bangunan pertama di Pulau Jawa yang dilengkapi lift buatan Otis Elevator Company meskipun kini sudah tidak berfungsi. Bangunan tiga lantai ini juga menampilkan elemen khas seperti kubah kecil di bagian tengah yang menaungi area tangga dan void, serta denah berbentuk “L” yang menjadi ciri khas kantor Nillmij di Hindia Belanda. Kini, meski fungsinya telah berganti menjadi kantor PT Asuransi Jiwasraya (Persero), gedung ini tetap menjadi penanda penting sejarah arsitektur kolonial dan perkembangan ekonomi di Semarang.
12. Restoran Pringsewu “Raja Gula Kota Lama / Gedung Penjara Kolonial Lama”
Restoran Pringsewu yang kini berdiri megah di kawasan Kota Lama Semarang dulunya merupakan kantor pusat Oei Tiong Ham Concern, kerajaan bisnis milik Oei Tiong Ham, sang Raja Gula dari Asia. Oei Tiong Ham adalah pengusaha Tionghoa terkaya pada masanya yang sukses membangun jaringan bisnis lintas negara, mulai dari gula, komoditas, jasa gadai, hingga perbankan. Bangunan ini masih mempertahankan bentuk aslinya dan menjadi cagar budaya yang menyimpan sejarah penting, termasuk sebuah brankas raksasa setinggi dua lantai yang dulunya menyimpan kekayaan sang pengusaha. Keistimewaan Oei Tiong Ham di masa Hindia Belanda pun terlihat dari berbagai hak istimewa yang diberikan kepadanya, termasuk kebebasan tinggal di luar wilayah Pecinan dan pengangkatan sebagai Mayor Tionghoa terakhir di Semarang.
Meski dikenal luas sebagai Raja Gula, sebagian besar kekayaan Oei Tiong Ham justru berasal dari perdagangan candu, yang pada masa itu sangat diminati dan menyumbang pendapatan luar biasa hingga setara Rp96 miliar per tahun dalam nilai saat ini. Setelah wafat di Singapura pada tahun 1924, bisnisnya diwariskan kepada anak-anaknya, namun perlahan meredup akibat konflik warisan dan kemerosotan usaha. Salah satu putrinya, Oei Hui Lan, dikenal sebagai anak kesayangan. Puncaknya, seluruh perusahaan milik keluarga ini dinasionalisasi oleh Presiden Soekarno pada 1960. Jejak Oei Tiong Ham yang begitu kuat menjadikannya figur yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan identitas Kota Semarang.
Aktivitas Seru: Belajar Lewat Permainan dan Interaksi
Acara ini bukan hanya berjalan dan mendengarkan sejarah, tapi juga dirancang agar interaktif dan menyenangkan. Beberapa aktivitas seru yang akan dilakukan :
- Permainan Tradisional : Lompat Tali, Bakiak, Engklek
- Storytelling sejarah dalam Bahasa Inggris
- Foto-foto dokumentasi gratis di spot ikonik Kota Lama
- Bertemu teman baru dan belajar kolaboratif
Fasilitas dan Persiapan
Setiap peserta akan mendapatkan :
- Tour guide profesional
- Full English learning session
- Snack + air mineral
- Doorprize menarik
- Dokumentasi gratis
Apa yang Perlu Kamu Siapkan?
Pastikan kamu membawa perlengkapan berikut :
- Ransel / backpack
- Topi atau pelindung kepala
- Botol minum sendiri
- Sunblock
- Baju lengan panjang
- Sepatu olahraga
- Celana panjang
- Jaket (untuk antisipasi cuaca)
Mengapa Kamu Harus Hadir? Bukan Sekadar Liburan, Tapi Investasi Pengalaman
Ketika mendengar kata “liburan”, sebagian besar dari kita mungkin langsung membayangkan momen bersantai, lepas dari rutinitas harian, dan menikmati waktu tanpa beban. Namun, bagaimana jika liburan tidak hanya menjadi sarana hiburan, tapi juga sebagai pengalaman yang kaya nilai edukatif, sosial, dan personal? Inilah alasan mengapa kamu harus hadir dalam kegiatan ini karena ini bukan sekadar liburan, melainkan sebuah investasi pengalaman yang tak ternilai.
1. Pembelajaran Lintas Disiplin : Menyelami Sejarah, Bahasa, dan Budaya
Salah satu nilai paling kuat dari kegiatan ini adalah pendekatannya yang lintas disiplin. Baik anak-anak maupun orang dewasa akan terpapar langsung pada sejarah, bahasa, dan budaya yang sebelumnya mungkin hanya dikenal lewat buku atau layar.
Bayangkan kamu dan keluarga mengunjungi tempat-tempat bersejarah, mendengarkan cerita-cerita masa lalu dari pemandu lokal, atau bahkan mencoba berdialog dengan penduduk setempat menggunakan bahasa mereka. Aktivitas semacam ini memberikan pengalaman otentik dan jauh lebih membekas dibandingkan metode pembelajaran konvensional.
Untuk anak-anak, ini adalah cara efektif menghubungkan teori yang mereka pelajari di sekolah dengan dunia nyata. Untuk orang dewasa, ini memperkaya wawasan dan membuka pemahaman yang lebih luas terhadap perbedaan budaya.
2. Stimulasi Rasa Ingin Tahu dan Eksplorasi
Kegiatan ini dirancang untuk merangsang rasa ingin tahu dan semangat eksplorasi. Dalam dunia yang serba digital, kemampuan untuk bertanya, mencari tahu, dan mengeksplorasi secara aktif menjadi semakin penting, terutama bagi anak-anak.
Melalui perjalanan ini, peserta akan diajak mengamati, bertanya, berdiskusi, dan menyimpulkan sendiri hal-hal yang mereka temui. Rasa penasaran yang muncul secara alami ini akan menjadi bahan bakar pembelajaran yang berkelanjutan. Anak-anak akan belajar bahwa dunia sangat luas dan penuh hal menarik untuk digali sesuatu yang tidak bisa mereka temukan hanya lewat layar gadget.
3. Kesempatan Keluar dari Zona Nyaman dan Belajar Secara Langsung
Salah satu hambatan terbesar dalam pertumbuhan pribadi adalah zona nyaman. Kegiatan ini memberi kesempatan emas untuk keluar dari rutinitas dan zona nyaman, baik secara fisik maupun mental.
Menginjakkan kaki di lingkungan baru, mencoba makanan lokal, atau berinteraksi dengan orang asing akan melatih fleksibilitas, keberanian, dan kemampuan adaptasi. Semua itu adalah keterampilan hidup yang sangat penting, namun sering kali tidak diajarkan secara eksplisit.
Belajar langsung dari pengalaman (experiential learning) memberikan dampak yang lebih kuat dibandingkan hanya membaca atau menonton. Ini adalah cara pembelajaran yang menyeluruh menggunakan semua indra dan melibatkan emosi serta logika secara bersamaan.
4. Meningkatkan Keterampilan Sosial dan Komunikasi
Berada dalam kelompok dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, serta harus berinteraksi dengan masyarakat lokal, secara otomatis akan meningkatkan keterampilan sosial dan komunikasi.
Anak-anak akan belajar bagaimana menyapa, bertanya dengan sopan, mendengarkan, dan menyampaikan pendapat. Sementara orang dewasa bisa memperluas jaringan sosial dan belajar berempati terhadap perspektif yang berbeda.
Kegiatan seperti ini juga memberi ruang bagi keluarga untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama. Dalam dunia yang sibuk, momen seperti ini penting untuk mempererat hubungan dan membangun kenangan bersama.
Seperti slogan yang diusung :
“Jelajah Budaya, Belajar dengan Cara Seru!”
Kegiatan ini dirancang untuk membangun karakter yang berwawasan luas, kreatif, dan percaya diri. Tak heran jika Toto Study Club menyebutnya sebagai bentuk pendidikan alternatif yang mengedepankan interaktivitas dan pengalaman langsung.
Kesimpulan
Backpacking Education Tour bersama Toto Study Club di Kota Lama Semarang merupakan pengalaman edukatif yang menggabungkan pembelajaran sejarah, budaya, dan bahasa Inggris dalam konsep wisata interaktif yang menyenangkan. Dengan mengunjungi berbagai situs ikonik seperti Gereja Blenduk, Rumah Akar, Gedung Marba, Tekodeko, hingga Gedung Marabunta, peserta diajak untuk belajar secara langsung di lapangan dalam suasana yang kontekstual dan inspiratif.
Didukung oleh Dans Keik Bakery serta dipandu oleh tour guide profesional dari Bersukaria Tour, kegiatan ini menekankan pembelajaran lintas usia melalui metode menyenangkan seperti permainan tradisional, storytelling, dan sesi interaksi dalam Bahasa Inggris. Para peserta juga akan mendapat berbagai fasilitas pendukung seperti snack, doorprize, dan dokumentasi gratis.
Lebih dari sekadar jalan-jalan, acara ini menjadi bentuk pendidikan alternatif yang efektif untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, memperluas wawasan, meningkatkan keterampilan sosial, serta membangun karakter yang aktif dan percaya diri. Sesuai dengan slogannya, kegiatan ini benar-benar mewujudkan semangat : “Jelajah Budaya, Belajar dengan Cara Seru!”
Dengan dukungan dari Dans Keik Bakery Semarang dan dipandu oleh storyteller profesional dari Bersukaria Tour, pengalaman ini menjadi lebih dari sekadar jalan-jalan biasa. Konsep walking tour yang interaktif menjadikan setiap langkah sebagai momen pembelajaran dan eksplorasi. Terbuka untuk segala usia, kegiatan ini membuktikan bahwa belajar bisa dilakukan di luar kelas dengan cara yang menghibur, mendalam, dan membekas.
Belajar Seraya Menjelajah: Edukasi yang Menyenangkan
Seperti namanya, wisata edukasi bukan sekadar liburan. Ini adalah bentuk pembelajaran alternatif yang semakin digemari karena mampu menyampaikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai budaya secara langsung dan kontekstual. Tidak hanya untuk pelajar, wisata edukasi dapat diikuti oleh semua kalangan usia, karena menekankan pembelajaran interaktif yang menyenangkan.
Dalam kegiatan ini, peserta tidak hanya akan belajar sejarah dan budaya Kota Lama Semarang, tetapi juga akan mendapatkan pengalaman belajar Bahasa Inggris langsung di lapangan, dengan dukungan tour guide profesional dan aktivitas penuh interaksi.
Apa yang Bisa Kamu Dapatkan dari Kegiatan Ini?
Backpacking education bukan sekadar jalan-jalan santai yang diisi dengan foto-foto dan bersantai. Di balik kegiatan yang tampak menyenangkan ini, terdapat berbagai manfaat pendidikan dan pengembangan diri yang bisa kamu rasakan secara langsung. Konsep backpacking education menggabungkan petualangan, pembelajaran kontekstual, serta pengembangan soft skill dan komunikasi lintas budaya. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa kamu dapatkan dari kegiatan ini :
1. Pengalaman Belajar Langsung di Lapangan
Salah satu kelebihan utama dari backpacking education adalah metode belajar langsung di lapangan. Peserta tidak hanya duduk diam mendengarkan materi, tetapi terlibat aktif dalam kegiatan eksploratif. Ketika kamu mengunjungi tempat-tempat bersejarah atau lingkungan masyarakat tertentu, kamu akan melihat sendiri bagaimana pelajaran yang biasanya kamu baca di buku benar-benar terjadi di dunia nyata. Misalnya, belajar tentang sejarah kolonial Belanda di Semarang menjadi jauh lebih hidup ketika kamu menyusuri kawasan Kota Lama, melihat langsung bangunan peninggalan zaman VOC, dan mendengar cerita dari narasumber lokal.
Belajar di lapangan seperti ini mampu meningkatkan pemahaman karena melibatkan banyak indera: melihat, mendengar, menyentuh, bahkan mencium aroma khas lingkungan. Metode ini juga memperkuat ingatan karena pengalaman tersebut melekat secara emosional dan fisik.
2. Penggunaan Bahasa Inggris Aktif dalam Kegiatan
Kegiatan backpacking education biasanya dirancang dalam format bilingual atau full English, tergantung pada tujuan dan kelompok pesertanya. Ini menjadi kesempatan luar biasa untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris secara aktif dalam konteks nyata. Kamu akan diajak berdialog, berdiskusi, hingga bermain peran (role-play) dengan menggunakan bahasa Inggris.
Berbeda dengan belajar di kelas yang lebih fokus pada teori dan tata bahasa, dalam kegiatan ini kamu akan dipaksa untuk berpikir cepat dan menyesuaikan ucapan dengan situasi di lapangan. Misalnya, ketika menjelaskan arah kepada turis asing yang kebetulan lewat, atau saat mendeskripsikan suatu tempat kepada teman dalam kelompok. Hal ini melatih kepercayaan diri, keberanian untuk berbicara, serta kelancaran dalam komunikasi aktif.
3. Pengetahuan Sejarah dan Budaya Semarang Secara Kontekstual
Semarang merupakan kota yang kaya akan sejarah dan budaya. Dalam backpacking education, kamu tidak hanya sekadar mengunjungi tempat-tempat populer seperti Lawang Sewu atau Sam Poo Kong, tetapi juga akan diajak memahami konteks sejarah dan nilai-nilai budaya yang ada di balik tempat-tempat tersebut.
Kamu akan belajar tentang bagaimana etnis Tionghoa, Jawa, dan Belanda hidup berdampingan, bagaimana akulturasi budaya terjadi, serta nilai-nilai lokal yang masih hidup sampai sekarang. Materi yang disampaikan juga dikaitkan dengan isu-isu kekinian, seperti pelestarian bangunan tua, toleransi antarumat beragama, atau dinamika masyarakat urban. Ini semua membuat pengetahuan yang kamu dapatkan menjadi lebih bermakna dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
4. Permainan Tradisional yang Membangun Kerjasama dan Rasa Percaya Diri
Kegiatan tidak hanya berisi eksplorasi dan diskusi, tetapi juga permainan tradisional yang menyenangkan dan edukatif. Permainan seperti engklek, egrang, atau gobak sodor tidak hanya membangkitkan nostalgia, tetapi juga mengajarkan nilai kerja sama, strategi, serta membangun rasa percaya diri. Dalam suasana yang santai dan kompetitif, peserta akan belajar bagaimana berinteraksi, menyusun rencana, dan bekerja sama sebagai tim.
Kegiatan seperti ini juga menjadi jembatan antara generasi. Anak-anak dan remaja bisa merasakan permainan yang dulu dimainkan oleh orang tua atau kakek-nenek mereka, sehingga memperkuat ikatan budaya dan menghargai warisan lokal.
5. Networking dan Pertemanan Baru Lintas Usia
Salah satu manfaat sosial dari backpacking education adalah kesempatan untuk menjalin hubungan dengan orang-orang baru dari latar belakang yang beragam. Dalam satu kelompok, kamu bisa bertemu dengan siswa, mahasiswa, guru, bahkan pekerja profesional yang memiliki minat serupa. Interaksi ini membuka wawasan, memperluas jejaring pertemanan, dan bisa membuka peluang kolaborasi di masa depan.
Kamu juga akan belajar bagaimana berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang yang lebih tua atau lebih muda, yang pada akhirnya membentuk sikap toleran dan empati. Hubungan yang terjalin selama kegiatan seringkali berlanjut setelah program selesai, baik sebagai teman, rekan belajar, maupun partner dalam proyek sosial.
Belajar bisa di mana saja, dan kali ini Semarang menjadi ruang kelas terbuka yang luar biasa.
Kota Lama Semarang: Kelas Terbuka Bernuansa Kolonial
Kawasan Kota Lama Semarang dikenal sebagai Little Netherlands karena deretan bangunan peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh sejak abad ke-18. Di sinilah peserta akan merasakan atmosfer tempo dulu sambil belajar tentang sejarah dan arsitektur kolonial yang unik. Destinasi utama dalam Fun Education Trip kali ini meliputi :
1. Gereja Blenduk
Gereja Blenduk, yang bernama resmi GPIB Immanuel, merupakan salah satu ikon paling mencolok di kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah. Dibangun pertama kali oleh bangsa Portugis pada tahun 1753, gereja ini awalnya berbentuk rumah panggung bergaya Jawa. Namun, pada tahun 1894–1895, bangunan ini direnovasi besar-besaran oleh arsitek Belanda H.P.A. De Wilde dan W. Westmaas, yang mengubah atapnya menjadi kubah setengah bola dan menambahkan dua menara kembar di bagian depan. Perubahan arsitektur ini membuat masyarakat menyebutnya sebagai "Gereja Blenduk," dari kata Jawa mblenduk yang berarti menonjol atau menggelembung.
Gereja ini dibangun dengan gaya Neo Klasik dan memiliki denah berbentuk salib Yunani, dengan ruang kebaktian sebagai pusatnya, melambangkan Kristus yang disalibkan. Di dalamnya terdapat berbagai ornamen khas, seperti orgel setinggi enam meter yang telah berusia lebih dari dua abad dan kursi jemaat tunggal dari kayu jati dengan dudukan anyaman rotan. Ventilasi berupa jendela kaca patri bergaya gotik juga menambah nuansa klasik bangunan ini. Kini, Gereja Blenduk tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai warisan budaya yang memperkaya sejarah arsitektur kolonial di Indonesia.
2. Rumah Akar
Di tengah gemerlap nuansa kolonial Kota Lama Semarang, terdapat satu spot yang mencuri perhatian wisatawan, yakni Rumah Akar. Terletak di Jl. Jalak gang kecil yang menghubungkan Jl. Kepodang dan Jl. Letjen Soeprapto, tepat di seberang Museum 3D Rumah Akar adalah bangunan tua yang kini tampak terbengkalai, tanpa atap dan hanya menyisakan dinding luar. Keunikan tempat ini terletak pada akar pohon besar yang melilit bangunan, menciptakan suasana eksotis dan sangat Instagramable. Meski tampak angker, banyak pengunjung datang untuk mengabadikan momen karena pesonanya yang artistik dan misterius.
Bangunan ini menyimpan sejarah panjang. Dulunya, rumah tersebut merupakan milik NV Dagblad de Locomotief, surat kabar berbahasa Belanda tertua di Semarang. Kemudian, pada abad ke-19, rumah ini pernah dimiliki oleh Thio Sing Liong, seorang konglomerat sukses di bidang ekspor. Kini, meski hanya tersisa dinding yang diselimuti akar, Rumah Akar tetap menjadi primadona dan simbol estetika Kota Lama. Berkunjung ke Kota Lama rasanya belum lengkap tanpa singgah dan berfoto di Rumah Akar yang penuh cerita ini.
3. Pasar Klitikan
Pasar Klitikan di Kota Lama Semarang menjadi surga bagi para pencinta barang antik dan penggemar nuansa retro. Di pasar ini, wisatawan bisa menemukan berbagai koleksi unik seperti senjata perang, mesin tik, televisi lawas, radio tua, hingga kendaraan antik. Tidak hanya itu, benda-benda klasik seperti setrika arang, lampu kuno, lukisan jadul, koper vintage, hingga uang dan piring kuno juga turut meramaikan suasana pasar. Sejak penataan ulang pada tahun 2019, Pasar Klitikan tampil lebih rapi dan nyaman untuk dijelajahi, tanpa rasa khawatir akan keramaian yang berdesakan.
Menariknya, pengunjung tidak diwajibkan membeli untuk bisa menikmati pengalaman di sini. Pasar Klitikan juga menjadi spot foto menarik berkat atmosfer tempo dulu yang khas. Ini menjadikannya destinasi sempurna bagi wisatawan yang ingin membawa pulang kenangan dalam bentuk foto ataupun suvenir unik untuk menghias rumah. Jadi, jika kamu sedang berada di Semarang, jangan lewatkan kesempatan untuk menjelajahi pasar antik yang penuh cerita ini.
4. Tekodeko Koffiehuis
Tekodeko Koffiehuis adalah perpaduan apik antara sejarah dan modernitas yang hidup di jantung Kota Lama Semarang. Mengusung konsep kafe dengan nuansa kolonial, Tekodeko hadir dalam bangunan klasik dari era 1880-an yang dahulu sempat menjadi hotel. Lokasinya yang strategis, hanya sepelemparan batu dari Gereja Blenduk, menjadikannya destinasi wajib bagi pencinta sejarah dan penikmat kopi. Interiornya yang hangat dengan sentuhan furnitur antik dan lukisan-lukisan lawas menciptakan atmosfer nostalgik, sementara balkon di lantai dua menawarkan pemandangan khas kota tua yang memesona.
Namun bukan hanya suasananya yang menawan, Tekodeko juga mengusung kekayaan sejarah Semarang lewat racikan kopinya. Terinspirasi dari akulturasi budaya Arab, Tiongkok, dan Belanda yang membentuk karakter kota ini, Tekodeko memperkenalkan signature drinks seperti Kopi Cheng Li, Kopi Arab, dan Kopi Londo. Selain itu, ada pula Kopi Gendhis dan Kopi Kota Lama yang menambah kekayaan rasa dan cerita di setiap tegukannya. Di sinilah, kopi menjadi medium untuk merasakan jejak sejarah, menjadikan setiap kunjungan ke Tekodeko tak sekadar ngopi, tapi juga sebuah perjalanan budaya.
5. Spiegel Bar & Bistro
Spiegel Bar & Bistro adalah destinasi kuliner ikonik yang wajib dikunjungi saat berada di kawasan Kota Lama Semarang. Berlokasi di Jl. Letjend. Suprapto No. 34, tempat ini menempati bangunan bersejarah yang sudah berdiri sejak tahun 1895 dan kini menjadi bagian dari cagar budaya kota. Dengan mempertahankan arsitektur kolonial klasik Eropa, Spiegel menawarkan pengalaman bersantap yang memadukan nuansa masa lampau dengan sentuhan modern. Interior yang dirancang langsung oleh sang pemilik yang berlatar belakang arsitek menambah kesan artistik dan berkarakter, terutama dengan elemen-elemen autentik seperti tiang penyangga baja, lantai semen asli, dan dinding bata ekspos yang menawan.
Tak hanya memanjakan lidah dengan menu makanan dan minuman yang beragam, Spiegel Bar & Bistro juga menawarkan atmosfer yang nyaman untuk berbagai aktivitas, mulai dari bersantap santai, nongkrong di area bar, hingga menggelar acara seperti seminar atau pameran seni di lantai dua. Konsep open kitchen yang memungkinkan pengunjung melihat langsung proses memasak serta desain kamar mandi dengan nuansa kolonial yang kuat memperkaya pengalaman berkunjung. Kombinasi sejarah, desain interior yang estetik, dan fungsionalitas menjadikan Spiegel bukan sekadar tempat makan, tapi juga ruang berinteraksi dan menikmati kekayaan budaya Kota Lama Semarang.
6. Gedung Oudetrap (Mini Amphitheater)
Mini Amphitheater “Gedung Oudetrap” merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang berada di jantung Kawasan Kota Lama Semarang. Gedung ini tidak hanya difungsikan sebagai ruang pertunjukan seni dan teater, tetapi juga menjadi galeri kesenian dan kebudayaan yang aktif mendukung kegiatan seni di kota tersebut. Dengan desain khas bergaya Belanda dan tangga spiral ikonik di bagian depannya, Oudetrap menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan maupun fotografer yang ingin mengabadikan nuansa kolonial yang kental.
Gedung bersejarah yang dibangun pada tahun 1834 ini dulunya merupakan gudang cengkeh, rempah, dan gambir pada masa kejayaan jalur perdagangan rempah abad ke-18. Kini, bangunan dua lantai seluas 1.420 meter persegi tersebut dimanfaatkan sebagai tempat berbagai kegiatan seperti seminar, pameran, hingga pertunjukan seni yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Semarang. Letaknya yang strategis di Jalan Taman Srigunting No. 3B menjadikan Oudetrap sebagai simbol revitalisasi dan pelestarian warisan budaya di tengah perkembangan modern Kota Semarang.
7. Gedung Marba
Gedung Marba adalah salah satu bangunan ikonik di kawasan Kota Lama Semarang yang kental dengan nuansa kolonial. Terletak tepat di depan Taman Srigunting, gedung bergaya vintage ini kerap menjadi spot favorit wisatawan dan fotografer. Warna merah marun yang mencolok serta desain arsitektur dua lantai yang kokoh membuat Gedung Marba mudah dikenali dan memikat perhatian. Dibangun pada abad ke-19 oleh seorang saudagar asal Yaman bernama Marta Badjunet, nama Marba sendiri merupakan akronim dari nama sang pendiri sebagai bentuk penghormatan. Dahulu, gedung ini pernah difungsikan sebagai toko modern bernama De Zeikel, yang menjadi pionir di kawasan tersebut.
Keunikan Gedung Marba sering dibandingkan dengan Toko Merah di Kota Tua Jakarta karena kemiripan gaya arsitekturnya. Berada di lokasi strategis yang dekat dengan Gereja Blenduk dan bisa dijangkau dengan sepeda onthel dari berbagai sudut Kota Lama, gedung ini menjadi pilihan ideal untuk wisata nostalgia. Pengunjung biasanya mengabadikan momen dengan latar belakang bangunan ini, terutama karena pesona klasiknya yang memikat. Selain Gedung Marba, Kota Lama Semarang juga menyimpan banyak bangunan bersejarah lain seperti Gedung Asuransi Jiwasraya dan Bank Mandiri, yang turut menambah daya tarik kawasan ini sebagai destinasi wisata fotografi bernuansa tempo dulu.
8. Taman Srigunting
Taman Srigunting merupakan jantung hijau di kawasan Kota Lama Semarang yang kini menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan. Terletak tepat di sisi timur Gereja Blenduk yang ikonik, taman ini menawarkan pemandangan yang indah dan nuansa historis yang kental. Tak hanya sekadar tempat bersantai, Taman Srigunting juga menjadi spot foto populer berkat latar belakang arsitektur kolonial yang memukau. Di masa penjajahan Belanda, taman ini berfungsi sebagai parade plein atau alun-alun tempat pasukan baris-berbaris. Namun kini, setelah melalui berbagai proses revitalisasi, taman ini berubah menjadi ruang terbuka hijau yang ramah dan nyaman untuk semua kalangan.
Dengan pohon-pohon rindang, fasilitas wi-fi gratis, dan kran cuci tangan yang tersebar di beberapa titik, Taman Srigunting cocok dikunjungi kapan saja, baik siang maupun malam. Saat matahari bersinar terik, taman ini menjadi tempat yang sejuk untuk beristirahat; sedangkan di malam hari, suasananya yang tenang dan pencahayaan yang apik menjadikannya lokasi ideal untuk berfoto atau mengobrol santai bersama kerabat. Sejak dibuka untuk umum pada 2001, taman ini tak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi, tetapi juga menjadi saksi bisu transformasi Semarang sebagai kota warisan budaya yang terus hidup.
9. Gedung Marabunta
Gedung Marabunta merupakan salah satu destinasi wisata ikonik di kawasan Kota Lama Semarang yang wajib dikunjungi, terutama bagi para pecinta sejarah dan fotografi. Daya tarik utamanya terletak pada dua patung semut raksasa yang menghiasi atap bangunan, memberikan kesan unik dan mencolok. Dibangun pada masa kolonial, gedung ini dahulu berfungsi sebagai tempat pertunjukan opera dan cafeteria yang dikenal dengan nama Schouwburg, menjadikannya saksi bisu perkembangan budaya dan seni di Semarang.
Ketika memasuki gedung, pengunjung akan disambut suasana interior yang tak biasa langit-langitnya menyerupai bagian dalam kapal terbalik, menciptakan nuansa yang memukau dan imajinatif. Keunikan arsitektur serta nilai historis yang dimilikinya membuat Gedung Marabunta menjadi lokasi favorit untuk berfoto sekaligus menyelami jejak masa lalu Kota Semarang.
10. Jembatan Mberok
Jembatan Mberok adalah salah satu landmark bersejarah yang berada di pintu gerbang kawasan Kota Lama Semarang. Dibangun pada masa kolonial, jembatan ini dahulu memiliki fungsi unik karena bisa dibuka dan ditutup untuk memberi jalan bagi kapal yang melintas di Kali Semarang. Kini, jembatan tersebut telah menjadi permanen, namun arsitektur lamanya tetap dipertahankan sebagai simbol kejayaan masa lalu dan bukti perkembangan kota Semarang dari masa ke masa.
Selain sebagai penghubung fisik, Jembatan Mberok juga menyimpan makna sosial-historis yang mendalam. Dahulu, jembatan ini menjadi simbol pemisah antara kawasan kaya kolonial Belanda yang dipagari benteng segi lima (Benteng Vijfhoek) dengan kawasan pribumi. Nama "Berok" sendiri merupakan hasil pelafalan kata Belanda "Brug" oleh masyarakat lokal. Kini, jembatan ini tetap aktif digunakan dan menjadi salah satu jalur penting warga Semarang, sekaligus ikon bersejarah yang menarik untuk dikunjungi saat menyusuri Kota Lama.
11. Gedung ex Jiwasraya
Gedung Jiwasraya di Semarang, dahulu dikenal sebagai Kantor Nillmij van 1859, merupakan salah satu bangunan cagar budaya penting di kawasan Kota Lama Semarang. Terletak di Jl. Letjend. Suprapto, bangunan ini dirancang oleh arsitek kenamaan Herman Thomas Karsten sekitar tahun 1916. Gedung ini mencerminkan gaya arsitektur Indisch Style atau Arsitektur Hindia Baru, yang menyesuaikan bentuk dan material bangunan dengan kondisi iklim tropis lembap. Fitur seperti fasad ganda, koridor pelindung, ventilasi silang, serta penggunaan kisi-kisi beton pada bagian dinding luar merupakan bukti adaptasi tersebut, sekaligus memperkuat nilai estetika bangunan.
Sebagai salah satu gedung modern pertama di Semarang, Gedung Jiwasraya dikenal pula sebagai bangunan pertama di Pulau Jawa yang dilengkapi lift buatan Otis Elevator Company meskipun kini sudah tidak berfungsi. Bangunan tiga lantai ini juga menampilkan elemen khas seperti kubah kecil di bagian tengah yang menaungi area tangga dan void, serta denah berbentuk “L” yang menjadi ciri khas kantor Nillmij di Hindia Belanda. Kini, meski fungsinya telah berganti menjadi kantor PT Asuransi Jiwasraya (Persero), gedung ini tetap menjadi penanda penting sejarah arsitektur kolonial dan perkembangan ekonomi di Semarang.
12. Restoran Pringsewu “Raja Gula Kota Lama / Gedung Penjara Kolonial Lama”
Restoran Pringsewu yang kini berdiri megah di kawasan Kota Lama Semarang dulunya merupakan kantor pusat Oei Tiong Ham Concern, kerajaan bisnis milik Oei Tiong Ham, sang Raja Gula dari Asia. Oei Tiong Ham adalah pengusaha Tionghoa terkaya pada masanya yang sukses membangun jaringan bisnis lintas negara, mulai dari gula, komoditas, jasa gadai, hingga perbankan. Bangunan ini masih mempertahankan bentuk aslinya dan menjadi cagar budaya yang menyimpan sejarah penting, termasuk sebuah brankas raksasa setinggi dua lantai yang dulunya menyimpan kekayaan sang pengusaha. Keistimewaan Oei Tiong Ham di masa Hindia Belanda pun terlihat dari berbagai hak istimewa yang diberikan kepadanya, termasuk kebebasan tinggal di luar wilayah Pecinan dan pengangkatan sebagai Mayor Tionghoa terakhir di Semarang.
Meski dikenal luas sebagai Raja Gula, sebagian besar kekayaan Oei Tiong Ham justru berasal dari perdagangan candu, yang pada masa itu sangat diminati dan menyumbang pendapatan luar biasa hingga setara Rp96 miliar per tahun dalam nilai saat ini. Setelah wafat di Singapura pada tahun 1924, bisnisnya diwariskan kepada anak-anaknya, namun perlahan meredup akibat konflik warisan dan kemerosotan usaha. Salah satu putrinya, Oei Hui Lan, dikenal sebagai anak kesayangan. Puncaknya, seluruh perusahaan milik keluarga ini dinasionalisasi oleh Presiden Soekarno pada 1960. Jejak Oei Tiong Ham yang begitu kuat menjadikannya figur yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan identitas Kota Semarang.
Aktivitas Seru: Belajar Lewat Permainan dan Interaksi
Acara ini bukan hanya berjalan dan mendengarkan sejarah, tapi juga dirancang agar interaktif dan menyenangkan. Beberapa aktivitas seru yang akan dilakukan :
- Permainan Tradisional : Lompat Tali, Bakiak, Engklek
- Storytelling sejarah dalam Bahasa Inggris
- Foto-foto dokumentasi gratis di spot ikonik Kota Lama
- Bertemu teman baru dan belajar kolaboratif
Fasilitas dan Persiapan
Setiap peserta akan mendapatkan :
- Tour guide profesional
- Full English learning session
- Snack + air mineral
- Doorprize menarik
- Dokumentasi gratis
Apa yang Perlu Kamu Siapkan?
Pastikan kamu membawa perlengkapan berikut :
- Ransel / backpack
- Topi atau pelindung kepala
- Botol minum sendiri
- Sunblock
- Baju lengan panjang
- Sepatu olahraga
- Celana panjang
- Jaket (untuk antisipasi cuaca)
Mengapa Kamu Harus Hadir? Bukan Sekadar Liburan, Tapi Investasi Pengalaman
Ketika mendengar kata “liburan”, sebagian besar dari kita mungkin langsung membayangkan momen bersantai, lepas dari rutinitas harian, dan menikmati waktu tanpa beban. Namun, bagaimana jika liburan tidak hanya menjadi sarana hiburan, tapi juga sebagai pengalaman yang kaya nilai edukatif, sosial, dan personal? Inilah alasan mengapa kamu harus hadir dalam kegiatan ini karena ini bukan sekadar liburan, melainkan sebuah investasi pengalaman yang tak ternilai.
1. Pembelajaran Lintas Disiplin : Menyelami Sejarah, Bahasa, dan Budaya
Salah satu nilai paling kuat dari kegiatan ini adalah pendekatannya yang lintas disiplin. Baik anak-anak maupun orang dewasa akan terpapar langsung pada sejarah, bahasa, dan budaya yang sebelumnya mungkin hanya dikenal lewat buku atau layar.
Bayangkan kamu dan keluarga mengunjungi tempat-tempat bersejarah, mendengarkan cerita-cerita masa lalu dari pemandu lokal, atau bahkan mencoba berdialog dengan penduduk setempat menggunakan bahasa mereka. Aktivitas semacam ini memberikan pengalaman otentik dan jauh lebih membekas dibandingkan metode pembelajaran konvensional.
Untuk anak-anak, ini adalah cara efektif menghubungkan teori yang mereka pelajari di sekolah dengan dunia nyata. Untuk orang dewasa, ini memperkaya wawasan dan membuka pemahaman yang lebih luas terhadap perbedaan budaya.
2. Stimulasi Rasa Ingin Tahu dan Eksplorasi
Kegiatan ini dirancang untuk merangsang rasa ingin tahu dan semangat eksplorasi. Dalam dunia yang serba digital, kemampuan untuk bertanya, mencari tahu, dan mengeksplorasi secara aktif menjadi semakin penting, terutama bagi anak-anak.
Melalui perjalanan ini, peserta akan diajak mengamati, bertanya, berdiskusi, dan menyimpulkan sendiri hal-hal yang mereka temui. Rasa penasaran yang muncul secara alami ini akan menjadi bahan bakar pembelajaran yang berkelanjutan. Anak-anak akan belajar bahwa dunia sangat luas dan penuh hal menarik untuk digali sesuatu yang tidak bisa mereka temukan hanya lewat layar gadget.
3. Kesempatan Keluar dari Zona Nyaman dan Belajar Secara Langsung
Salah satu hambatan terbesar dalam pertumbuhan pribadi adalah zona nyaman. Kegiatan ini memberi kesempatan emas untuk keluar dari rutinitas dan zona nyaman, baik secara fisik maupun mental.
Menginjakkan kaki di lingkungan baru, mencoba makanan lokal, atau berinteraksi dengan orang asing akan melatih fleksibilitas, keberanian, dan kemampuan adaptasi. Semua itu adalah keterampilan hidup yang sangat penting, namun sering kali tidak diajarkan secara eksplisit.
Belajar langsung dari pengalaman (experiential learning) memberikan dampak yang lebih kuat dibandingkan hanya membaca atau menonton. Ini adalah cara pembelajaran yang menyeluruh menggunakan semua indra dan melibatkan emosi serta logika secara bersamaan.
4. Meningkatkan Keterampilan Sosial dan Komunikasi
Berada dalam kelompok dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, serta harus berinteraksi dengan masyarakat lokal, secara otomatis akan meningkatkan keterampilan sosial dan komunikasi.
Anak-anak akan belajar bagaimana menyapa, bertanya dengan sopan, mendengarkan, dan menyampaikan pendapat. Sementara orang dewasa bisa memperluas jaringan sosial dan belajar berempati terhadap perspektif yang berbeda.
Kegiatan seperti ini juga memberi ruang bagi keluarga untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama. Dalam dunia yang sibuk, momen seperti ini penting untuk mempererat hubungan dan membangun kenangan bersama.
Seperti slogan yang diusung :
“Jelajah Budaya, Belajar dengan Cara Seru!”
Kegiatan ini dirancang untuk membangun karakter yang berwawasan luas, kreatif, dan percaya diri. Tak heran jika Toto Study Club menyebutnya sebagai bentuk pendidikan alternatif yang mengedepankan interaktivitas dan pengalaman langsung.
Kesimpulan
Backpacking Education Tour bersama Toto Study Club di Kota Lama Semarang merupakan pengalaman edukatif yang menggabungkan pembelajaran sejarah, budaya, dan bahasa Inggris dalam konsep wisata interaktif yang menyenangkan. Dengan mengunjungi berbagai situs ikonik seperti Gereja Blenduk, Rumah Akar, Gedung Marba, Tekodeko, hingga Gedung Marabunta, peserta diajak untuk belajar secara langsung di lapangan dalam suasana yang kontekstual dan inspiratif.
Didukung oleh Dans Keik Bakery serta dipandu oleh tour guide profesional dari Bersukaria Tour, kegiatan ini menekankan pembelajaran lintas usia melalui metode menyenangkan seperti permainan tradisional, storytelling, dan sesi interaksi dalam Bahasa Inggris. Para peserta juga akan mendapat berbagai fasilitas pendukung seperti snack, doorprize, dan dokumentasi gratis.
Lebih dari sekadar jalan-jalan, acara ini menjadi bentuk pendidikan alternatif yang efektif untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, memperluas wawasan, meningkatkan keterampilan sosial, serta membangun karakter yang aktif dan percaya diri. Sesuai dengan slogannya, kegiatan ini benar-benar mewujudkan semangat : “Jelajah Budaya, Belajar dengan Cara Seru!”